Minggu, 13 September 2020


BOGOR – Meski pembangunan merupakan bidang Komisi III, DPRD Kabupaten Bogor. Namun, anggota dewan Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor kembali mempertanyakan perubahan kontruksi jaring laba-laba menjadi kontruksi tiang pancang saat berkunjung kedua kalinya ke RSUD Leuwiliang, Kamis (10/9/2020).

Kali ini, empat anggota dewan yang datang dari Komisi IV, DPRD Kabupaten Bogor yakni Ridwan Muhibi (F Golkar), Ruhiyat Sujana (F Demokrat), Agus Salim (F Gerindra), dan Sutisna (F PAN). Tanpa ikut serta ketua komisinya, keempat anggota dewan dari Komisi IV yang membidangi pendidikan, kesehatan hingga kesejahteraan rakyat itu kembali meminta administrasi, risalah dasar perubahan kontruksi saat bertemu Pejabat Pembuat Komitmen RSUD Leuwiliang, Slamet. Namun, Slamet tidak bisa memberikan dengan alasan harus meminta ijin ke Dirut RSUD Leuwiliang Hesti Iswandary.

Tak berselang lama, Hesti Iswandary hadir setelah dipanggil Slamet dan menjelaskan kronologis perubahan tersebut. Tetapi, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor yang hadir meminta data-data risalah dokumentasi dari awal perencanaan proses perubahan konstruksi tersebut.

"Kita tidak perlu cerita, karna kita sudah mengetahui cerita tersebut, yang kita butuhkan semua administrasi perubahan tersebut,"tegas Ridwan Muhibi (F Golkar) yang kerap di sapa Bibih.

Senada, Ruhiyat Sujana (F Demokrat) mengatakan dirinya sebelum jadi anggota dewan mengawal pembangunan RSUD pertama yang mangkrak.

“Saya tetap akan mengawal agar pembangunan RSUD yang bersumber dari uang rakyat terbangun sesuai dengan siteplant, sehingga gedung yang baru memberikan pelayanan terhadap masyarakat dengan aman dan nyaman, kita disini sama-sama membangun sesuai kapasitas kita,"tegasnya.

Sementara itu, Dirut RSUD Hesti Iswandary menjelaskan bahwa dokumen, data risalah dasar perubahan kontruksi semuanya ada.

"Sebentar, Pak Slamet sedang mempersiapkan data-data yang diminta, semuanya ada, tercatat dalam risalah dan juga setiap minggu kita ada rapat evaluasi progres pekerjaan antara Kontraktor, MK, dan kita sendiri sebagai User,"jelas Hesti.

Lebih lanjut Hesti menjelaskan, perubahan kontruksi tersebut tidak merubah begitu saja.

"Tidak hanya semata-mata keinginan pribadi ataupun PPK, saya konsultasi bukan ke yang disini tapi ke provinsi juga, saya ikutin sebelum mengajukan. Itukan konsultasi bagaimana kondisinya seperti ini dan mereka sampaikan boleh, yang merubah struktur itu oleh perencana awal, kita konsultasi ke ahlinyakan,"kata Hesti.

Dia melanjutkan, terkait adanya kajian dari Prof Paulus yang disebutnya ahli dalam pondasi, itu atas inisiatif dirinya.

 “Artinya supaya ada kekuatan bahwa bener loh perubahan itu kita lakukan,"katanya lebih lanjut.

Namun, data yang diberikan Slamet (PPK) terhadap Anggota Komisi 4 yang dipinta tidak utuh. Kemudian, Anggota Komisi 4 melalui Ridwan Muhibi memberikan waktu sehari (Jumat) dari pertemuan yang dilakukan (Kamis) sampai ke Anggota Komisi 4 yang hadir.

Kepada awak media, Hesti mengatakan bahwa dengan hadirnya anggota dewan dalam rangka sama-sama kerja.

“Artinya dia membangun juga, kalau saya sih positif saja, dimana sih adanya kekurangan dia akan memperbaiki, itukan kata beliau, ya kita ikut saja,"tegasnya.

Saat ditanya apakah ada selisih atau tidak, anggaran antara KSLL dan Tiang Pancang, dirinya belum bisa menjawab.

"Untuk RAB nya belum-belum tuntas. Inikan tiang pancang, misalkan 24 meter ternyata pas dilapangan tiang pancang 24 meter itu masih bisa, itukan harus terus ketitik terkeras, jadi saya tidak tau ya ada selisih hasil akhirnya, cuma saya berharap mudah-mudahan tidak menambah biaya,"pungkasnya. (Dian Pribadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Senam Massal HUT ke-58 Golkar di Tenjolaya Meriah, Peserta Joget Bareng dapat Doorprize

TENJOLAYA– Sekitar 1.000 an masyarakat turun mengikuti  Senam Massal HUT ke-58 Partai Golkar  di Tenjolaya pada Sabtu (22/10/2022) pagi.  Ac...